My Reviews

Refleksi  Gender di Era Millenial

Refleksi Gender di Era MilenialPada era milenial saat ini tentu lebih mudah bagi kita belajar mengenai hal apapun, tentunya saya bersyukur sekali segalanya terasa lebih mudah dan cepat. Lalu bagaimana dengan orang tua kita mengalami era sebelum milenial ini, tentunya tidak banyak media yang dipelajari seperti  saat  ini.

Orangtua saya memang tidak duduk di perguruan tinggi, namun semangatnya adalah anak-anaknya harus sekolah sampai perguruan tinggi. Mungkin bagi sebagian orang yang memandang duduk di perguruan tinggi ialah hal biasa, namun dalam keluarga saya merupakan hal yang sangat disyukuri. Karena artinya anak-anaknya mendapat jenjang pendidikan yang lebih baik.

Sejak dulu ketika ditanya cita-cita saya selalu diarahkan pada feminisme misalnya pramugari, sekretaris, bidan dan lain sebagainya. Jadi dimindset saya pun sudah tertanam bahwa kelak saya akan menjadi sekretaris misalnya. Namun setelah beranjak dewasa banyak belajar dari berbagai media, dan saya menyadari bahwa saat itu ternyata saya pernah bias gender.

Mengapa demikian? Saya rasa bahwa mungkin banyak orangtua yang mensosialisasikan peran gender seperti  itu. Padahal pendidikan sejak dini akan sadar gender itu penting. Untuk itu sebagai kau milenial penerus bangsa kita perlu memahami sadar gender.

Sharing sedikit mengenai pengalaman saya, pada saat ingin melanjutkan sekolah menengah atas. Pada akhrinya pilihan saya jatuh ke jurusan akuntansi. Karena pada saat itu, saya merasa belum cukup berani untuk mengambil jurusan selain ekonomi. Dimana tidak ada satupun teman perempuan saya yang mengambil jurusan otomotif, listrik maupun mesin.

 

Namun jaman sekarang, apa salahnya bila perempuan melakukan pekerjaan yang biasanya diakukan oleh kaum adam?

Seperti berita belum lama ini saya bangga sekali dengan sosok ibu Arvila Delitriana yang telah membuat saya kagum. Ditangan beliau perancang jembatan melengkung LRT Jakarta sepanjang 148 meter diatas flyover Kuningan Jakarta Selatan. Melalui tangan dinginnyalah proyek ini masih berlangsung hingga saat ini. Proyek ini setiap hari saya lewati dan tidak disangka perancangnya adalah seorang perempuan. Bahkan Presiden Joko Widodo juga ikut memberi pujian dan tidak lupa menteri di Kabinet Indonesia Maju turut serta memberi pujian atas hasil kerja kerasnya ini.

Hal ini merupakan salah satu pembuktian bahwa pekerjaan yang biasa dilakukan laki-laki juga dapat dilakukan oleh perempuan dengan hasil yang  tidak main-main.

Oleh karena itu, menurut saya penting para orang tua memperkenalkan pendidikan sadar gender sejak dini, sebelumnya kita akan membahas perbedaan Seks dan Gender supaya tidak rancu dalam pengertiannya.

Seks dan Gender

Perkenalan Sadar Gender Sejak Dini

Pentingnya perkenalan tentang sadar gender dapat diterapkan sejak dini, contoh sederhana ketika ibu sedang memasak dan sibuk mengerjakan urusan rumah tangga. Apakah pekerjaan tersebut hanya diakukan oleh ibu saja? Tentu tidak. Ayah juga dapat membantu pekerjaan ibu rumah tangga. Hal ini dapat dijadikan contoh untuk anak laki-laki bahwa pekerjaan rumah tangga juga dapat dilakukan oleh laki-laki.

Dengan begitu tidak ada kesalah pahaman, dalam pendidikan sadar gender terhadap anak-anak yang menganggap bahwa pekerjaan laki-laki hanya mengandalkan sisi maskulinitas. Sehingga dapat menciptakan lingkungan yang ramah gender.

Perkenalan Sadar Gender Sejak Dini

Konsep Ramah Gender

Perempuan dapat melakukan pekerjaan laki-laki dengan baik seperti contoh ibu Arvila Delitriana yang berhasil dalam merancang jembatan melengkung LRT, artinya bahwa tidak dapat dipandang sebelah mata perempuan yang mengerjakan pekerjaan laki-laki. Konsep ini berhasil mematahkan pandangan bahwa perempuan hanya memiliki sifat lemah lembut, hanya mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan jika berkarir hanya sebagai staff saja.

Media Ramah Gender

Media menjadi salah satu yang berperan dalam penerapan ramah gender. Karena dapat mempengaruhi kebijakan umum, sikap pribadi dan perilaku seseorang. Representasi media seharusnya tidak menimbulkan distorsi dan bias gender. Misalnya penggambaran perempuan baik lewat artikel maupun visual sering kali tidak positif, wanita dikaitkan dengan seksualitas pada majalah pria dewasa dengan memakai bikini.

Hal lainnya laporan tentang kekerasan seksual sering kali menghasilkan kekerasan lebih lanjut, seperti contoh berikut:

Menggunakan perspektif gender dalam tulisan dapat mengungkapkan informasi baru yang lebih berisi, merubah angle dari berita tersebut dan membuatnya lebih menarik dan berkualitas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *